Senin, 25 Februari 2013

Komisi I-Panglima TNI Bahas Penembakan di Papua


Komisi I-Panglima TNI Bahas Penembakan di Papua


Komentar  |   Share : Facebook  Share to Twitter  mail
Komisi I-Panglima TNI Bahas Penembakan di Papua
Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono menjelaskan kronologi penembakan terhadap 8 anggota TNI di Papua. Ramses/detikFoto.
icon_star_off icon_star_off icon_star_off icon_star_off icon_star_off

Foto Lain

  • Slide
  • Slide
  • Slide
  • Slide
Komisi I DPR menggelar rapat kerja dengan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, KSAD Jenderal TNI Pramono Edhie, KSAU Marsekal Madya Putu Dunia, dan Kepala BIN Letjen TNI Marciano Norman di gedung DPR, Jakarta, Senin (25/2/2013). Rapat tersebut membahas penembakan di terhadap anggota TNI di Papua.

Minggu, 24 Februari 2013

Perjuangan Islam DiTipu Lagi???







Tgk. Daud Beureueh

CATATAN SANTAI IBNU HASYIM
SAYA berpeluang lagi bersama  masyarakat Aceh Malaysia. Saya dijemput memberi pandangan dalam forum kecil-kecilan 'Peduli Aceh' yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin kecil tempatan di Selangor bebeapa hari lalu.
"Kita sebut 'bangsa Aceh', bukan perjuangan kita perkauman." Ucap salah seorang dari mereka. "Sama seperti Malaysia, sebut Melayu automatik, Melayu itu Islam. Begitu juga Aceh!"
"Kita mahu perjuangan Aceh dan Indonesia seluruhnya bangkit selari dengan kehendak Islam, bahkan perlu dinamo pengecainya adalah Islam. Sejarah gemilang Aceh membuktikan berbagai bangsa hidup rukun damai di Aceh di bawah payung kesultanan Islam. 
"Hingga sekarang, ada rakyat Aceh mirip rupa bangsa India, Arab, Cina, Eropah, di samping ramai kaum pribumi. Pernah Aceh menguasai dunia perniagaan Asia Tenggara, di samping juga kuasa poitik. Kita ingin kembali ke zaman itu." Jelas beliau lagi.
Hal ini mengingatkan saya kepada sebuah buku yang pernah tersebar di Malaysia puluhan tahun lalu berjudul 'Teungku Tjhik Muhammad Dawud Di Beureueh, Mujahid Teragung di Nusantara'  diterbitkan oleh Gerakan Perjuangan dan Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, tahun 1987. Ditulis oleh S.S Djuangga BatubaraSaya tak kenal penulis itu pun, walaupun saya tertarik dengan pandangannya.
Buku ini mengisahkan, kisah perjuangan Islam Teungku Tjhik Muhammad Dawud, di Beureueh Aceh. Seperti juga yang dinukilkan oleh menantu beliau M. Nur el-Ibrahim, Tgk Daud seorang Purn ABRI. Panggilan akrab kepadanya ialah 'Abu'. Beliau seorang ulama besar, ingin membangunkan 'Aceh Baru' yang 'demokratis, bebas dari penghisapan atau penindasan manusia oleh manusia' (exploitation delhomme par home).
Nama beliau sejajar dengan dua pejuang penyalamat umat dan rakyat Indonesia lainnya, iaitu Mr Sjafruddin Prawiranegara, Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan LN Palar, Duta Besar Indonesia di PBB. 
Semasa akhir tahun 1949, Republik Indonesia (RI) ditimpa kritis fatal, di mana hampir seluruh wilayah sudah diduduki Belanda semula. lbukota Republik pun sudah dikuasai penjajah Eropah. Presiden dan wakil Presiden ditangkap Belanda dan dibuang dibuang ke Pulau Bangka. Sjafruddin Prawiranegara sempat diangkat sebagai Kepala (Ketua) Pemerintah RI telah bergegas ke Bukit Tinggi. 
Kerana merasa tidak aman di Bukit Tinggi, beliau mengungsi ke Aceh, yakni sebuah wilayah Republik yang belum mampu dapat diduduki oleh Belanda. Tiga Angkatan mengungsi ke Aceh. Iaitu..
  • Staff Angkatan Darat Kol Hidayat
  • Staff Angkatan Udara Suyoso, dan darat. 
  • Staff Angkatan Laut Komodor Subiyakto. 
Kali pertama pemimpin-pemimpin Aceh ini, terdiri dari Abu Beureueh atau Tgk Daud ini, Tgk Abdul Wahab Seulimum, Hasan Ali dan M. Nur El Ibrahimy (menantu beliau sendiri) berkunjung kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara. Mereka menuntut  janji Soekarno semasa datang ke Aceh dua tahun lalu (1947) iaitu mengizinkan pembentukan sebuahPropinsi Aceh.
Soekarno berjanji di depan Abu Beureueh sendiri dan dua kali bersumpah, tetapi ternyata tidak ditunaikan. Masa itu Pak Sjaf (panggilan Syafruddin) menjawab.. "Jangan khawatir, dalam dua tiga hari ini, Propinsi Aceh akan saya bentuk, seperti yang diinginkan oleh rakyat Aceh. Seperti yang dijanjikan."
Maka Propinsi Aceh pun dibentuklah! 
Dibentuklah.. Dengan PP Pengganti Undang-undang mulai berlaku pada 8 Disember 1949. Sebagai Gubernur Aceh pertama, diangkatlah Abu Beureueh. Beliau dibantu oleh sebuah badan yang disebut Badan Pemerintah Provinsi Aceh, terdiri dari T M Amien, Orang Kaya Salamuddin, A.R. Hasjim dan Pak Syaf sendiri.
Di seluruh rakyat Aceh bergembira kerana keinginan sejak lama, kini tercapai. Terbentuknya Provinsi Aceh. Hal ini memberi laluan mudah kepada kepergian Jendral Mayor Tituler, Mantan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Abu Beureueh sebagai Gubernur Aceh penggantinya  terus mengajak rakyat berjuang mati-matian mempertahankan Aceh jangan sampai dapat diduduki Belanda. 
Sebab kalau Aceh dapat diduduki Belanda, bererti tamatlah riwayat Republik Indonesia.Pertarungan sengit antara Aceh-Belanda berpusat di perbatasan Aceh-Sumatera Utara (dikenal Medan Area). Dipertahankan dengan gigih oleh rakyat Aceh bersama TNI Devisi X Aceh, Barisan- Barisan mujahidin pimpinan Abu Beureueh sendiri, TP (Tentara Pelajar) dan TPI (Tentara Pelajar Islam). 
Maka berkat pimpinan solid dari Abu Beureueh, pertahanan rakyat Aceh begitu gigih, dan Medan Area tak dapat ditembusi tentara Belanda. Penjajah akhirnya kembali ke kota Medan. Maka Republik Indonesia yang hampir nazak hidup kembali. LN Palar, Duta Besar RI di PBB yang sebelumnya sudah loyo, menjadi bangkit kembali. Beliau segera meminta mandad dari PBB kembalikan kedaulatan Indonesia Serikat, pada 17 Ogos1950. 
Tapi sayang, perjuangan Islam Aceh/ Indonesia ditipu? 
Sayang sekali, tapi bila sudah mula meraih bunga-bunga kejayaan..
Satu: Pada hari upacara penyerahan kembali kedaulatan atas RI kepada Pemerintah Indonesia oleh Belanda, Jendral Mayor Tituler Abu Beureueh atau Tgk Daud yang dianggap salah seorang penyelamat Republik Indoensia tidak diundang ke upacara tersebut.
Dua: Perlu dijelaskan bahawa sebelum penyerahan kedaulatan, di Aceh terjadi heboh besar, kerana dibubarkan Propinsi Aceh. Heboh ini yang mulanya terjadi di Kota Raja (Banda Aceh sekarang) meluas sampai ke seluruh Aceh. Maka dilayangkanlah poster-poster dan resolusi- resolusi kepada pemerintah. 
Heboh ini tidak dapat diatasi hingga terpaksalah pembesar-pembesar Negara dari pusat datang ke Aceh untuk menyenangkan rakyat. Antara lain ialah Mr Assaat (Mendagri), namun rakyat tidak mahu dengar lagi. Maka Bung Hatta yang kembali menjadi Wakil Presiden Negara Kesatuan NRI datang ke Aceh. Tetapi rakyat tetap juga tidak hiraukan.
Tiga: Abu Beureueh Mantan Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo, yang juga mantan  Gubernur Aceh, menyatakan dengan tegas...
  • "Bahwa kalau Provinsi Aceh tidak dibentuk kembali, saya akan naik ke gunung untuk membentuk Provinsi Aceh menurut keinginan kami sendiri". 
Zaini Bakri, Bupati Aceh Besar juga dengan tegas mengatakan kalau provinsi Aceh tidak kembali dibentuk pegawai RI di seluruh Aceh meletakan jabatan.
Empat: Kerana rakyat tidak dapat ditenangkan, Muhammad Natsir (Perdana Menteri Kabinet pertama NRI) datang ke Aceh. Beliau mula-mula mengadakan pertemuan dengan petinggi-petinggi Aceh, kemudian melalui radio. Ia mengajak rakyat supaya tenang dan tidak khawatir. Beliau akan berusaha sekuat tenaga membentuk kembali Propinsi Aceh. 'Secara Intergral', Ertinya membentuk Propinsi di seluruh Indonesia. 
Lima: Betul-betul Natsir telah mengubah situasi panas menjadi suasana sejuk, sehingga rakyat di seluruh Aceh tenang kembali, dan dengan penuh kepercayaan menunggu janji Perdana Menteri Pertama Natsir itu. Tetapi sayang sekali lagi, kabinet Natsir setelah kira-kira satu tahun bekerja, dijatuhkan oleh anggota-anggota DPR (ahli parimen) yang tidak menyetujui Provinsi Aceh iaitu PKI, PNI, Partai Indonesia Raya dan beberapa partai lainnya. 
Apakah ini juga suatu perancangan penipuan musuh-musuh Islam (penjajah) lanjutan dari Perang Salib di Eropah? 
Enam: Yang jelas, harapan rakyat Aceh untuk tegaknya sebuah Provinsi seperti yang diinginkan di Tanah Rencong berdasarkan Islam (seperti pemerintahan mengikut Kesultanan Aceh sebelumnya) hancur berkecai.  Semua. Provinsi Aceh baru dibentuk kembali setelah Abu Beureueh 'naik gunung' (sebagai yang ditegaskan di depan Bung Hatta), beberapa waktu setelah jatuhnya Kabinet Ali Sastroamidjojo (dari PNI) yang menggantikan Kabinet Natsir.
Negara Islam Indonesia


Mari kita lihat semasa berkunjung ke Aceh pada tahun 1948, Soekarno mengucapkan janjinya dengan meyakinkan Daud Beureueh. Dimana cerita sumpah Soekarno dihadapan Teungku Muhammad Daud Beureueh itu adalah adalah seperti berikut.. 


["Teungku Daud Beureueh pernah menyatakan: "Lebih setahun sesudah proklamasi kemerdekaan, pada waktu tentara Belanda dan Sekutu sedang melancarkan serangan secara besar-besaran, dimana para pemuda kita sudah ribuan bergelimpangan gugur di medan perang, datanglah Sukarno ke Aceh...Dia datang menjumpai saya menerangkan peristiwa-peristiwa dan perkembangan revolusi." Dalam pertemuan itu saya tanya Sukarno: "Untuk apa Indonesia merdeka?" Sukarno menjawab: "Untuk Islam kak". Dia memanggil kakak kepada saya. Saya tanya lagi, "betulkah ini?". Jawabnya, "betul kak". Saya tanya sekali lagi, "betulkah ini?". Dia jawab, "betul kak". Saya ulangi lagi, "betulkah ini?".Pada waktu inilah Sukarno berikrar: "Kakak! Saya adalah seorang Islam. Sekarang kebetulan ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama yang baru kita proklamasikan. Sebagai seorang Islam, saya berjanji dan berikrar bahwa saya sebagai seorang presiden akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana. Saya mohon kepada kakak, demi untuk Islam, demi untuk bangsa kita seluruhnya, marilah kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini".(Baca: S.S. Djuangga Batubara, Buku; Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 76-77)]


Ternyata akhirnya, ikrar Soekarno itu untuk: "akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana" hanyalah tipu muslihat saja. Sehingga Teungku Muhammad Dawud Beureueh di Aceh memaklumkan Negara Islam Indonesia pada 20 September 1953, yang sebahagian isinya menyatakan bahwa;

"Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam."Ditipu Lagi?Apakah penipuan ini berlanjutan hingga ke Perjanjian Helsinki selepas tsunami dan hasilrapat tersebut menentukan Hasan Tiro sebagai Wali Nanggroe dan Malek Mahmud Al Haytar sebagai Pemangku Wali Nanggroe, sedangkan tahap Islam masih begitu-begitu juga?
Isya Allah. jika ada kesempatan, kita akan berforam 'peduli Aceh' lagi.. Sekian, wssalam.


Catatan Santai Ibnu Hasyim
alamat: ibnuhasyim@gmail.com  30 Sept  2012
KL

by;forum peduli aceh.

Surat Dari ASNLF (3)


Banda Aceh -Redaksi AtjehLINK kembali menerima sebuah surat elektronik dari seseorang yang mengaku sebagai koordinator Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF) dalam Nanggroe, Teuku Agam.

E-mail seperti bentuk wawancara ini berisi pertanyaan dan jawaban yang dibuat oleh si pengirim sendiri dan tidak ada wawancara yang dilakukan oleh AtjehLINK.

Berikut ini kami tayangkan secara utuh surat elektronik tersebut yang diterima AtjehLINK, Minggu (24/02/2013).

Foto: www.asnlf.org
Foto: www.asnlf.org



















1. Apa tujuan ASNLF untuk Aceh?

Pada saat Wali Neugara Tgk. Hasan Muhammad di Tiro mendeklarasikan kembali kemerdekaan Aceh di gunông Halimôn, yaitu pada tanggal 4 Desember 1976, seperti yang telah kita ketahui bersama, beliau telah pula mendirikan sebuah organisasi yang ditujukan untuk mengukuhkan status kemerdekaan Neugara Atjèh di tingkat internasional dan juga untuk mengusir keberadaan illegal pihak-pihak asing dari wilayah Aceh.

Organisasi yang beliau  dirikan tersebut dikenal dengan nama Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF) atau Atjèh Meurdéhka (AM). Memang, sangat disayangkan bahwa pada proses perdamaian di Helsinki, Finlandia,  tahun 2005 yang lalu, GAM telah tergelincir ke dalam jebakan otonomi Indonesia dan gagal menjalankan misi-misi organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Namun demikian, semangat perjuangan dan kemerdekaan bangsa Aceh memang tidak pernah hilang. Oleh karena itu, melalui musyawarah dan mufakat, organisasi ASNLF yang telah ditinggalkan dengan misi-misinya yang belum tercapai tersebut pun kembali diaktifkan. ASNLF yang baru ini masih tetap memperjuangkan misi-misi yang telah ditetapkan pada saat pertama didirikan oleh Tgk. Hasan, yang salah satunya adalah untuk mengembalikan kedaulatan Negara Aceh seperti masa sebelum terjadinya penjajahan.

2. Bagaimana pandangan ASNLF terhadap politik di Aceh saat ini pasca perdamaian?

Politik nasional kebangsaan Aceh yang pada masa-masa awal perdamaian sempat dikaburkan dengan euforia damai Helsinki alhamdulillah sudah kembali ke status awal, yaitu kebersamaan menuju Aceh yang berdaulat. Memang kita akui, bahwa rakyat Aceh sekarang masih terkotak-kotak, namun kami sangat yakin bahwa terlepas dari segala perbedaan yang ada, rakyat Aceh tidak akan pernah meninggalkan cita-cita dan perjuangan AM. Sedikit ego manusia yang selalu bersikap membenarkan cara-cara kelompok dan pribadi masing-masing Insya Allah akan segera dapat kita hapuskan demi keberlangsungan perjuangan bersama.

Di lain pihak, politik licik MoU Helsinki yang sedang dijalankan oleh Indonesia melalui kaki-kaki tangannya di Aceh pun sudah basi dan tidak laku lagi. Pernyataan-pernyataan dan tindakan-tindakan kontroversial para penguasa, yang di satu pihak berkepentingan untuk menjaga  dan memupuk sokongan rakyat terhadap kepemimpinannya, di lain pihak juga berkepentingan untuk menyenangkan hati tuan-tuan mereka di Jakarta, justru membawa pencerahan dan penyegaran kepada saudara-saudara kami yang pernah tertipu dengan janji-janji Helsinki. Alhamdulillah mereka yang sudah sadar akan kekeliruan MoU ini sudah kita konsolidasikan untuk kembali bernaung di bawah payung ASNLF.

3. Apakah dengan adanya kekuatan ASNLF Aceh bisa mengarah kemerdekaan? Dengan cara apa?

ASNLF tidak memiliki arti apapun tanpa perjuangan nyata dan dukungan penuh dari rakyat Aceh di dalam  luar negeri. ASNLF akan kuat bersama rakyat. Dengan kekuatan inilah kita akan bergerak bersama-sama untuk menuntut perlindungan dan pengakuan atas hak-hak rakyat, seperti hak-hak azasi manusia dan hak penentuan nasib sendiri.

4. Lantas, apa ASNLF sendiri memiliki cita-cita untuk merdekakan Aceh? Sejak kapan?

Pertanyaan ini sudah terjawab pada penjelasan pertanyaan pertama.

5. Menurut ASNLF, apakah ada dorongan dari Negera luar untuk merdekakan Aceh? Negara mana saja yang mendukung Aceh untuk merdeka?

Kemerdekaan Aceh adalah tanggung jawab rakyat dan bangsa Aceh sendiri. Jadi sangat tidak relevan, jika kita mengharapkan negara lain untuk maju dan memperjuangkan kepentingan kita, sementara kita sendiri belum melakukan usaha apapun untuk meraih kemerdekaan Aceh.  Akan tetapi sebaliknya mantan-mantan pejuang sendiri ramai yang berkolaborasi untuk mengukuhkan keberadaan Indonesia di bumi Aceh.

Namun demikian, sudah tentu sangat ramai individu-individu dari kalangan internasional, terutama para pegiat HAM, yang menyambut kebangkitan kembali ASNLF dengan sangat antusias. Memang bukan rahasia lagi bahwa Indonesia dan pasukan militernya adalah “musuh” aktivis HAM internasional karena tindakan-tindakan tidak manusiawi mereka terhadap rakyat sipil di berbagai tempat di nusantara.

Melalui hubungan dan kerja sama yang erat dengan kalangan aktivis ini, kita terus berupaya untuk dapat menarik simpati masyarakat luar yang tentu saja memiliki suara dalam menentukan kebijakan pemerintahan di negara mereka masing-masing.

6. Beredar isu, bahwa dengan adanya qanun bendera dan lambang maka Aceh bisa merdeka, benarkah demikian?

Pertanyaan ini sudah kami jawab dalam wawancara tentang bendera, dan sekali lagi kami mengajak para pembaca untuk tidak berspekulasi tentang isu ini. Maksud dan tujuan pengadaan bendera dan lambang yang dipertanyakan sudah jelas tertulis hitam di atas putih dalam rancangan qanun yang sudah beredar. Sikap dan penjelasan ASNLF tentang hal ini telah dipublikasikan di

http://theglobejournal.com/feature/di-seantero-dunia-bendera-bulan-bintang-berkibar-tanpa-qanun/index.php

7. Apakah ASNLF dengan MP-GAM/AMD ada hubungannya dengan luar negeri?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah sering diajukan, walaupun demikian, kami mencoba sedikit meluruskan kesimpang-siuran tentang ASNLF dan MP-GAM/AMD, yang memang sengaja dibuat-buat untuk memojokkan perjuangan yang sedang kami rintis bersama rakyat Aceh, yang masih setia terhadap perjuangan yang diwariskan oleh Alm. Wali Neugara Tgk. Hasan.Berdirinya MP-GAM adalah suatu upaya untuk menyelesaikan konflik internal di dalam tubuh GAM itu sendiri, yang dibentuk pada 22 Maret 1999, yang bertujuan untuk menyelamatkan perjuangan AM dari kevakuman kepemimpinan, karena almarhum Wali Neugara terkena stroke di tahun 1997. Mekanisme kepemimpinan bersama ini ditujukan pula untuk mencegah terjadinya kudeta yang dapat melahirkan seorang diktator, yang rentan dalam melakukan perbuatan penyelewengan kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan kelompok-kelompok tertentu.Sangat disayangkan bahwa mekanisme tersebut ternyata tidak mendapat sambutan baik dari kelompok-kelompok tertentu yang berujung pada kasus penembakan dan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh MP, seperti yang terjadi pada Tgk. Don Zulfahri (Sekjen MP-GAM), Tgk. Haji Usman, dan Tgk. Abdul Wahab. Setelah pembunuhan terhadap Tgk. Don, aktifitas MP-GAM praktis hilang dan orang-orangnya pun disingkirkan dengan label “pengkhianat”. Dengan berhasilnya penghancuran MP-GAM maka lahirlah pemimpin-pemimpin GAM yang bertindak sewenang-wenang pada waktu itu. Tindakan-tindakan tersebut masih terus dipraktekkan di Aceh sampai hari ini.Sementara KPAMD (Komite Persiapan Acheh Merdeka Demokratik) atau AMD, adalah organisasi yang didirikan pada tahun 2005 sebagai wujud penolakan terhadap proses dan hasil perundingan yang sedang berlangsung di Helsinki pada masa itu. Namun, euforia atas nota kesepahaman Helsinki menyebabkan organisasi ini tidak bertahan lama.Sedangkan ASNLF adalah organisasi induk yang memiliki mekanisme tersendiri, yang diatur dalam sebuah konstitusi, dan merupakan bentuk kelanjutan dari organisasi yang didirikan oleh Alm. Wali Neugara Tgk. Hasan. Siapa saja berhak untuk berpartisipasi dalam keanggotaan dan struktur organisasi ASNLF selama ia dapat memenuhi kriteria keanggotaan yang telah ditetapkan dalam Konstitusi ASNLF. Bahkan tokoh-tokoh GAM, MP-GAM, AMD, MB-GAM, dan organisasi-organisasi kemasyarakatan Aceh lainnya pun sudah ramai yang bergabung di bawah payung keanggotaan ASNLF.
Saleum

Teuku Agam
Koordinator ASNLF di dalam Nanggroe.

Oleh Sartika, S.Th.I| Aktivis KAMMI Aceh

 "Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan".  (Al-Israa' ayat 26-27)
Beginalah lucunya negeri ini dalam memutuskan sebuah keputusan. Seorang pelayan rakyat yang seharusnya hidup lebih prihatin dari rakyatnya namun pada kenyataanya hari ini sedang ada pembangunan Istana Wali Nanggroe dengan biaya lebih dari 35 Milyar.
Hal ini sangat menyedihkan bagi rakyat Aceh, dimana kemiskinan masih dimana-mana, pengemis jalanan masih banyak kita lihat. Apakah layak seorang Pelayan Rakyat hidup bermegah-megahan  di atas penderitaan rakyat Aceh.
Jika keberadaan Wali Nanggroe merupakan turunan referensi masa kesultanan dahulu, maka hidup kejuhudan juga merupakan pokok utama dalam menjalankan tugas, menghabiskan dana 109 juta / Hari bukanlah angka yang kecil untuk sebuah lembaga yang kurang dibutuhkan oleh masyarakat Aceh saat ini pasalnya dana untuk Syariat Islam plot anggaran APBA kurang dari 5%. 
Hal ini menjadi pertanyaan besar rakyat Aceh dalam melihat komitmen Pemerintah Aceh dalam menjadikan Aceh Syariat Islam yang kaffah.
Melihat masa kepemimpinan Khulafa Urasyidin yaitu Abu Bakar yang di akhir kehidupanya menginfakan seluruh hartanya untuk kepentingan umat, selain itu Umar bin Khatab yang menyerahkan setengah hartanya diberikan kepada baitul mal, dan masa kepemimpinannya juga dikenal seorang Khalifah yag sangat memperhatikan rakyatnya hingga suatu malam dia memanggul sendiri gandum yang aka diberikan kepada rakyat untuk kebutuha kesahariannya, dimana semua orang tertidur lelap.
Dua kepemimpinan yang revolusioner mementingkan semua hak rakyatnya, adakah hari ini pemerintahan kita demikian, atau hanya sebuah janji semata yang gak tau kapan harus direalisasi untuk kesejahteraan rakyat.
Hari ini ada dua petinggi Aceh yang kedudukanya sama-sama Pelayan Rakyat yaitu Gubernur dan Wali Nanggroe sebuah harapan besar kita tumpukan kepada dua pemimpin Aceh hari ini untuk mensejahterakan rakyat Aceh, dan selalu pro terhadap Syariat Islam.
Disamping itu juga Istana Pelayan Rakyat harapanya tidak memilki pengawal yang menyulitkan masyarakat untuk bertemunya antara Majikan dan Pelayan.
Disini sebenarnya Majikan adalah Rakyat dan Pelayan adalah pemerintah, dimana penyedia layanan jika tidak tepat dalam menyelesaikan amanah yang telah diberikan kepada majikan, maka majikan berhak menuntut kembali kepada pelayan, begitulah seharusnya rotasi pergerakan Pemerintah yang dijalankan, bukan sebuah Istana yang tinggi menjulang sehingga menyulitkan kepada majikan masuk dirumah sendiri menjadi sulit.
Dan ini menjadi budaya kita hari ini, dan disini penulis tegaskan bahwa Istana Gubernur, Pendopo, Istana Wali Nanggroe adalah milik Rakyat yang dalam hal ini menjadi majikan jangan pernah takut untuk masuk dan menutut yang menjadi Hak.
Dan kepada Pelayan yang hari ini di Amanahkan untuk tidak membuat benteng besar sehingga menyulitkan bagi majika untuk masuk dirumah sendiri. Bekerja untuk rakyat, bekerja untuk Indonesia, Bekerja untuk Umat adalah prioritas tugas seorang Pelayan Publik.

Seputar Aceh Merdeka. Inilah Hasil Wancacara ANP dan Teuku Agam, Koordinator ASNLF di Dalam Nanggroe



  1. ibendera gam1.Apa tujuan utama ASNLF untuk Aceh?
Lalu, Teuku Agam menjelaskan, ketika Wali Neugara Tgk. Hasan Muhammad di Tiro, mendeklarasikan kembali kemerdekaan Aceh di gunông Halimôn, pada tanggal 4 Desember 1976 silam, beliau telah mendirikan sebuah organisasi yang ditujukan untuk mengukuhkan status kemerdekaan Neugara Atjèh di tingkat internasional dan juga untuk mengusir keberadaan illegal pihak-pihak asing dari bumi Aceh.

Kemudian, Organisasi tersebut digelar nama Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF) atau Atjèh Meurdéhka (AM). Memang sangat disayangkan bahwa pada proses perdamaian di Helsinki, Finlandia, di tahun 2005 yang lalu, GAM telah tergelincir ke dalam jebakan otonomi Indonesia dan gagal menjalankan misi-misi organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.

Meski demikian, semangat para perjuangan kemerdekaan bangsa Aceh memang tidak pernah hilang. Oleh sebab itu, melalui musyawarah dan mufakat, organisasi ASNLF yang telah ditinggalkan dengan misi-misinya yang belum tercapai target kembali diaktifkan. ASNLF yang baru ini masih tetap memperjuangkan misi dan hak-hak yang telah ditetapkan pada saat pertama didirikan oleh Tgk. Hasan, yang salah satunya adalah untuk mengembalikan kedaulatan Negara Aceh seperti semula sebelum terjadinya penjajahan.

2. Bagaimana menurut pandangan ASNLF terhadap politik di Aceh pasca perdamaian?
Terkait politik nasional kebangsaan Aceh diawal perdamaian sempat suram dengan euforia damai MoU Helsinki 2005 lalu, alhamdulillah sudah kembali ke status semula, yaitu secara kebersamaan menuju Aceh yang berdaulat. Kita mengakui rakyat Aceh kini masih terkotak-kotak. Pun demikian kami menyakini bahwa aceh terlepas dari segala perbedaan yang ada dan rakyat Aceh tidak akan pernah meninggalkan cita-cita perjuangan AM.

Selanjutnya, dari pihak lain politik licik MoU Helsinki yang sedang dijalankan Indonesia melalui kaki-kaki tangannya di Aceh kini mulai basi dan tidak laku lagi. Pernyataan dan tindakan-tindakan kontroversial para penguasa, yang di satu pihak berkepentingan untuk menjaga  dan memupuk sokongan rakyat terhadap kepemimpinannya. Disisi lain ada pihak untuk berkepentingan menyenangkan hati tuan-tuan di Jakarta, justru membawa pencerahan dan penyegaran kepada saudara-saudara kami yang pernah tertipu dengan janji-janji Helsinki. Alhamdulillah mereka yang sudah sadar akan kekeliruan MoU ini sudah kita konsolidasikan untuk kembali bernaung di bawah payung ASNLF.

3. Apakah kekuatan ASNLF mampukah merebut kemerdekaan?
ASNLF tidak memiliki arti apapun tanpa perjuangan nyata dan dukungan penuh dari rakyat Aceh baik yang berada di daerah maupun di luar negeri. ASNLF akan kuat bersama rakyat. Dan dengan kekuatan inilah kita akan bergerak bersama-sama untuk menuntut perlindungan dan pengakuan atas hak-haknya, seperti HAM dan hak penentuan nasib bangsa aceh sendiri.

4. Menurut ASNLF, apakah ada dukungan dari Negera Internasional untuk merdekakan Aceh. Jika ada Negara mana saja?
Sebagai bentuk dukungan dari negara international ASNLF telah bekerja sama dengan sebuah lembaga internasional yakni Unrepresented Nations and Peoples Organization (UNPO), untuk ifo lebih lanjut klik (www.UNPO.org)

Kamis, 21 Februari 2013

SINGA SIGLI ANGKAT BICARA MENYANGKUT BOIKOT PILKADA 2014


Jakarta | acehtraffic.com - Kami dari Acheh-Sumatra National Liberation Front / Atjèh Meurdéhka (ASNLF/AM) ingin mengumumkan bahwa tidak akan pernah menerima dalam bentuk apapun kerja sama dengan pemerintahan kolonial Indonesia dan kaki tangannya yang ada di Atjèh sampai kapanpun. MERDEKA merupakan harga mati bagi segenap bangsa Atjèh.

ASNLF/AM selaku penerus dari perjuangan endatu-endatu bangsa Atjèh mengajak kapada seluruh elemen masyarakat Atjèh untuk bersatu dan sama-sama membentuk barisan demi memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki yang merupakan hak segenap bangsa di muka bumi. Sebagaimana dalam Al Qur'an juga disebutkan "Allah SWT tidak akan pernah mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri" (Surat Ar-Ra'd - 11).

MoU Helsinki hanyalah perjanjian sekelompok masyarakat Atjèh dengan pemerintahan kolonial Indonesia yang hari ini berani mengatas namakan rakyat Atjèh. Mungkin Indonesia merasa berhasil dengan tercapainya MoU Helsinki tapi itu semua hanyalah tipu daya kolonial Indonesia untuk membodohi rakyat Atjèh. Atjèh merupakan bangsa berdaulat dan bermartabat jauh sebelum kolonial Indonesia merdeka. Jadi sampai kapanpun tidak ada alasan bagi pemerintahan kolonial Indonesia untuk menguasai Atjèh. Opsi-opsi licik yang ditawarkan oleh pemerintahan kolonial Indonesia melalui runding di Helsinki hanyalah harapan semu dan harapan itu sekarang perlahan-lahan menjadi mimpi buruk bagi rakyat dan bangsa Atjèh.

Menganai partai-partai politik yang sekarang gencar dibicarakan di Atjèh, sekali lagi kami tegaskan kami dari ASNLF/AM tidak pernah mengakui apa lagi mendukung suatu partai politik apapun. Bagi ASNLF/AM partai-partai politik yang ada di Atjèh saat ini merupakan perpanjangan tangan dari pemerintahan kolonial Indonesia dan tidak ada sangkut paut apapun dengan ASNLF/AM.

Boikot pemilu 2014 merupakan salah satu program untuk membuka kaca mata dunia bahwasanya bangsa Atjèh tidak menerima perintah apapun dari pemerintahan kolonial Indonesia ataupun kaki-tangannya di Atjèh. Bila ada yang mengatakan ASNLF/AM mendukung partai politik tertentu, itu hanyalah provokasi yang sengaja dihembuskan oleh oknum atau kelompok tertentu untuk mendapatkan simpati dari rakjat Atjèh demi memenangkan pemilu yang akan datang.

Kami menegaskan Perjuangan keumerdekaan tidak akan pernah hilang dalam sanubari bangsa Atjèh oleh karena itu kami menghimbau Aktivis-Aktivis kemerdekaan dan segenap rakyat Atjèh bekerja sama untuk mendukung Program Boikot Pemilu 2014 dengan mekanime yang telah ditetapkan sesuai dengan etika International dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.

Sikap ASNLF/AM untuk Boikot Pemilu 2014 sudah tidak bisa ditawar lagi dan sudah kita pelajari untung dan rugi terdapat rakyat Atjèh, ASNLF/AM berkomitmen tidak dengan cara-cara menyerah atau berunding dengan pemerintah kolonial Indonesia. Sekarang dengan begitu banyaknya kehilangan nyawa orang-orang Atjèh yang tidak berdausa apakah bangsa Atjèh masih patut duduk satu meja dengan pemerintahan kolonial Indonesia? 

Salam. 
Juru Bicara ASNLF/AM Wilayah Pidie

Arjuna

Surat Dari ASNLF (2)


Surat Dari ASNLF (2)

Logo ASNLFBanda Aceh – Redaksi AtjehLINK kembali menerima sebuah surat elektronik dari pihak yang mengatasnamakan dirinya Acheh Sumatra National Liberation Front/Aceh Merdeka (ASNLF/AM).
Kali ini, rilis tersebut dikirim oleh Arjuna yang mengaku sebagai Juru Bicara ASNLF/AM Wilayah Pidie.
Sebelumnya, Sabtu (16/02/2013) AtjehLINK juga menerima rilis dari Abu Sumatera Pasee yang mengaku dirinya Juru bicara ASNLF/AM Wilayah Pasee.
Berikut isi lengkap rilis tersebut yang diterima AtjehLINK, Kamis (21/02/2013) sekira jam 02.00 WIB;
Assalammu’alaikum w.w.
Kru seumangat!
Kami dari Acheh-Sumatra National Liberation Front/Atjèh Meurdéhka (ASNLF/AM) ingin mengumumkan bahwa tidak akan pernah menerima dalam bentuk apapun kerja sama dengan pemerintahan kolonial Indonesia dan kaki tangannya yang ada di Atjèh sampai kapanpun. MERDEKA merupakan harga mati bagi segenap bangsa Atjèh.
ASNLF/AM selaku penerus dari perjuangan endatu-endatu bangsa Atjèh mengajak kapada seluruh elemen masyarakat Atjèh untuk bersatu dan sama-sama membentuk barisan demi memperjuangkan kemerdekaan yang hakiki yang merupakan hak segenap bangsa di muka bumi. Sebagaimana dalam Al Qur’an juga disebutkan “Allah SWT tidak akan pernah mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri” (Surat Ar-Ra’d – 11).
MoU Helsinki hanyalah perjanjian sekelompok masyarakat Atjèh dengan pemerintahan kolonial Indonesia yang hari ini berani mengatas namakan rakyat Atjèh. Mungkin Indonesia merasa berhasil dengan tercapainya MoU Helsinki tapi itu semua hanyalah tipu daya kolonial Indonesia untuk membodohi rakyat Atjèh. Atjèh merupakan bangsa berdaulat dan bermartabat jauh sebelum kolonial Indonesia merdeka. Jadi sampai kapanpun tidak ada alasan bagi pemerintahan kolonial Indonesia untuk menguasai Atjèh. Opsi-opsi licik yang ditawarkan oleh pemerintahan kolonial Indonesia melalui runding di Helsinki hanyalah harapan semu dan harapan itu sekarang perlahan-lahan menjadi mimpi buruk bagi rakyat dan bangsa Atjèh.
Mengenai partai-partai politik yang sekarang gencar dibicarakan di Atjèh, sekali lagi kami tegaskan kami dari ASNLF/AM tidak pernah mengakui apa lagi mendukung suatu partai politik apapun. Bagi ASNLF/AM partai-partai politik yang ada di Atjèh saat ini merupakan perpanjangan tangan dari pemerintahan kolonial Indonesia dan tidak ada sangkut paut apapun dengan ASNLF/AM.
Boikot pemilu 2014 merupakan salah satu program untuk membuka kaca mata dunia bahwasanya bangsa Atjèh tidak menerima perintah apapun dari pemerintahan kolonial Indonesia ataupun kaki-tangannya di Atjèh. Bila ada yang mengatakan ASNLF/AM mendukung partai politik tertentu, itu hanyalah provokasi yang sengaja dihembuskan oleh oknum atau kelompok tertentu untuk mendapatkan simpati dari rakjat Atjèh demi memenangkan pemilu yang akan datang.
Kami menegaskan Perjuangan keumerdekaan tidak akan pernah hilang dalam sanubari bangsa Atjèh oleh karena itu kami menghimbau Aktivis-Aktivis kemerdekaan dan segenap rakyat Atjèh bekerja sama untuk mendukung Program Boikot Pemilu 2014 dengan mekanime yang telah ditetapkan sesuai dengan etika International dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
Sikap ASNLF/AM untuk Boikot Pemilu 2014 sudah tidak bisa ditawar lagi dan sudah kita pelajari untung dan rugi terdapat rakyat Atjèh, ASNLF/AM berkomitmen tidak dengan cara-cara menyerah atau berunding dengan pemerintah kolonial Indonesia. Sekarang dengan begitu banyaknya kehilangan nyawa orang-orang Atjèh yang tidak berdausa apakah bangsa Atjèh masih patut duduk satu meja dengan pemerintahan kolonial Indonesia?
Salam. 
Juru Bicara ASNLF/AM Wilayah Pidie
Arjuna
(sp)

Surat dari ASNLF (2) – AtjehLINK || Merdeka Mengabarkan

Surat dari ASNLF (2) – AtjehLINK || Merdeka Mengabarkan

Rabu, 20 Februari 2013

STRUKTUR PEMERENTAHAN ISKANDARMUDA


Untuk mengenang kembali masa keemasan, kejayaan, dan kebesaran Kerajaan Aceh Darussalam dengan angkatan perangnya yang tangguh di darat dan laut, di bawah ini saya tampilkan gelar-gelar perwira di Departemen Pertahanan dan susunan pangkat mau pun jabatan angkatan perang zaman Kerajaan Aceh Darussalam, yang dikutip dari Kandar Aceh.
Balai Laksamana Amirul Harb
Menurut Qanun Meukuta Alam (Konstitusi Negara/Undang-undang Kerajaan Aceh Darussalam), di antara lembaga-lembaga negara tertinggi terdapat Balai Laksamana Amirul Harb (Departemen Pertahanan), dan pejabat tinggi yang memimpinnya bergelar Orangkaya Laksamana Wazirul Harb (Menteri Pertahanan) yang mengepalai Angkatan Darat dan Angkatan Laut.
Qanun (Balai Laksamana)
  1. Seri Bentara Laksamana
  1. Tandil Amirul Harb
  1. Tandil Kawal Laksamana
  1. Budjang Kawal Bentara Sijasah
  1. Budjang Laksamana
  1. Tandil Bentara Semasat
  1. Budjang Bentara Sidik
  1. Tandil Radja
  1. Budjang Radja
  1. Magat Seukawat
  1. Budjang Akijana
  1. Tandil Gapounara Sijasah
Pembangunan Angkatan Perang
Sultan Iskandar Muda
Sultan Ali Mughayat Syah (1511-1530 M), pembangun Kerajaan Aceh Darussalam telah menetapkan empat dasar kebijakan negara, di antaranya: membangun Armada (Angkatan Laut) yang kuat.
Sultan Alaiddin Riayat Syah (1539-1572 M) yang lebih terkenal dengan Al Qahhar segera melanjutkan rencana Ali Mughayat Syah dengan membangun armada dan angkatan perang yang kuat, sekaligus menjalin kerjasama militer dengan negara Turkey Ottoman (Turki Usmani). Tenaga-tenaga ahli teknik untuk keperluan zeni didatangkan dari Turki, Arab, dan India. Turki sendiri mengirim 300 tenaga ahli yang dimaksud.
Sultan Iskandar Muda (Iskandar I, 1606-1636 M) yang mendasarkan kerjanya pada filsafat: siapa kuat hidup, siapa lemah, tenggelam terus memperkuat dan mempermodern angkatan perangnya darat dan laut.

Pangkat-Pangkat Militer Angkatan Perang Atjeh
  1. Si Pai (Prajurit)
  1. Tjut (Kopral)
  1. Banta Sedang (Sersan)
  1. Banta (Sersan Mayor)
  1. Banta Setia (Pembantu Letnan)
  1. Pang Tjut (Letnan II)
  1. Pang Muda (Letnan I)
  1. Pang (Kapten)
  1. Bentara Tjut ( Mayor)
  1. Bentara Muda (Letnan Kolonel)
  1. Bentara (Kolonel)
  1. Panglima Sukey (Brigadir Jenderal)
  1. Panglima Tjut (Mayor Jenderal)
  1. Panglima Muda (Letnan Jenderal)
  1. Panglima (Jenderal)
Buhon Angkatan (Pasukan Tentara)
  1. Sabat (Regu)
  1. Rakan (Peleton)
  1. Kawan (Kompi)
  1. Balang (Batalyon), Ulee Balang (Komandan Batalyon)
  1. Sukey (Resimen)
  1. Sagoe (Devisi)
Neumat Buet (Jabatan)
  1. Ulee (Komandan)
  1. Rama Setia (Ajudan)
  1. Keudjruen (Ajudan Jenderal)
  1. Keudjruen Panglima (Ajudan Panglima)
  1. Keudjruen Balang (Ajudan Batalyon)
  1. Peurintah (Komando)
  1. Adat (Staf)
  1. Tuha Adat (Kepala Staf)
  1. Adat Meuhad (Staf Khusus)
  1. Kaway (Petugas Penjagaan/Piket)
Adat Peurintah Sagoe (Staf Komando Devisi)
  1. Panglima Peurintah Sagoe (Panglima Devisi)
  1. Panglima Wakilah (Wakil Panglima)
  1. Bentara Rama Setia (Ajudan Kolenel)
  1. Pang Setia (Ajudan Kapten)
  1. Tuha Adat Peurintah (Kepala Staf Komando)
  1. Keudjreun (Staf Ajudan)
  1. Pang Muda Setia (Ajudan Letnan)
  1. Adat Samaindra (Staf Administrasi)
  1. Adat Seumasat (Staf Intelijen)
  1. Adat Peunaroe (Staf Operasi)
  1. Adat Seunaroe (Staf Logistik)
  1. Adat Meuhad (Staf Khusus)
  1. Bala Sidek Tantra (Korps Polisi Militer)
  1. Bala Tantra Rantoe (Tentara Lapangan/infanteri)
  1. Bala Utoh Pande (Korps Zeni Bangunan)
  1. Bala Surah Hanta (Korps Perhubungan)
  1. Bala Buleun Mirah (Korps Palang Merah)
  1. Bala Dapu Balee (Korps Perbekalan Barak)
  1. Balang Balee Raya (Batalyon Garnizun)
  1. Balang Meuriam Lila (Batalyon Alteleri)
  1. Kawan Bala Gajah (Batalyon Kaveleri)
  1. Mentara Tuha Adat (Kepala Staf)
  1. Ulee Adat (Perwira Staf)
  1. Ulee Bala (Kepala Korps)
  1. Ulee Kawan (Komandan Kompi)
  1. Ulee Balang (Komandan Batalyon, yang merangkap sebagai kepala pemerintahan sipil)
Demikian sekilas tentang struktur militer angkatan perang Kerajaan Aceh Darussalam yang sudah terkenal berabad-abad yang silam.

x