NKRI: Apakah Bentuk Lain dari Penjajahan?


Ini bukanlah ungkapkan kemarahan .Tapi suara hati atas kesedihan yang mendalam.Dan walau saya tidak suka, anda boleh menganggapnya sebagai keluhan. Bagaimana sikap anda saat merasa bahwa suatu saat anda harus menanggung “ akibat ” dari perbuatan yang dilakukan oleh orang lain. Ketika suatu saat harus menanggung kerugian dari guyuran keuntungan yang dinikmati orang lain. Ketika suatu saat harus hidup di neraka sementara isi surga anda di bawa pergi oleh orang lain. Dan tak ada yang bisa anda lakukan.
Menangis darah pun tak akan ada gunanya !
13112222471074035081
Kalimantan Timur dan Kutai Kertanegara khususnya adalalah tempat saya lahir dan dibesarkan. Dan rasanya juga akan menjadi tempat saya menghabiskan masa depan. Karena saya tak merasa punya pilihan lain. Disinilah masa lalu, masa sekarang dan mungkin masa depan saya terbentuk. Secara etnis saya bukanlah penduduk asli di tempat ini. Saya lahir dari suku bangsa yang terkenal sebagai pelaut ulung dan termasyhur sebagai perantau. Tapi ditempat saya sekarang tinggal di suatu kecamatan bernama Muara Badak, saya berani menjamin bahwa suku bangsa kamilah yang membukanya. Saya sudah melihat literatur dan sejarah terbangunnya tempat ini, dan memang begitulah adanya. Dan dari cerita – cerita terdahulu yang saya pernah mendengar, tempat yang saya tinggali sekarang adalah bagian dari daerah yang “dihibahkan” oleh kesultanan Kutai untuk ditinggali ketika pertama kali perantau – perantau dari suku kami datang. Etnis Kutai lewat Kerajaan Kutai adalah pemilik asli tanah ini. Memang di Kaltim ada juga etnis Dayak tapi mereka tidak tinggal di daerah pesisir dan mereka sangat jauh dipedalaman. Mungkin karena keahlian mereka adalah berburu bukan pelaut, hingga kurang cocok hidup didaerah pesisir pantai. Dan lagipula Etnis Dayak tersebar diseluruh daerah Kalimantan, bahkan sampai Malaysia. Sedang Etnis Kutai hanya ada disini. Sejarah dunia pun mencatat bahwa Kerajaan Kutai adalah kerajaan paling tua di nusantara.
Walau ”dulunya” secara de Jure tempat yang saya tinggali sekarang masuk wilayah kerajaan Kutai. Kenapa saya katakan “dulunya” ? Karena kenyataannya Kerajaan Kutai yang sekarang pun sudah terpasung oleh pemilik hukum baru yang bernama Pemerintahan Republik Indonesia. Kerajaan yang dulu terkenal ini sekarang hanya menjadi sekedar entitas budaya dan menjadi kenang-kenangan dari warisan sejarah masa lalu.
Ketika awal – awal suku kami datang, wilayah ini seperti tak bertuan. Kami pun merintis dan membuka lahan. Jadi tak heran bila kami menjadi suku mayoritas disini. Dan itu sudah berlangsung selama ratusan tahun lalu. Bahkan pertalian saya dengan tempat saya berasal sudah terputus sama sekali. Saya pernah bertanya pada ayah saya, ketika beliau masih hidup, dimana kampung kita di Sulawesi selatan sebelum kita pindah disini ? jawab beliau “tidak tahu”. Karena secara turun – temurun kakek dan nenek beliau memang sudah hidup disini.Ayah saya lahir disekira tahun 30 – 40-an dan sempat merasakan hidup dibawah kekuasaan Belanda dan Jepang. Ini saya tahu dari mulut beliau sendiri. Beliau anak tertua tapi paling terakhir menikah. Beliau menikah diatas usia empat puluhan ( Di kartu nikah nya kalau tak salah tertulis tahun 1975 ). Dan lucunya ada anak dari saudaranya (ponakan) yang menikah lebih dari dulu dari beliau. Karena tuntutan yang mengharuskan beliau jadi kepala keluarga. Ayah beliau meninggal disaat adik – adiknya masih kecil.
Memang tidak seperti banyak daerah lain di Indonesia yang di anugerahi Tuhan keindahan alam, budaya eksentrik , hewan – hewan eksotik. Kalimantan timur sangat biasa – biasa saja. Disini tak ada gunung tinggi dengan puncak bersalju menembus awan yang membuat para hiker tergila – gila. Tak ada sungai berbatu berarum jeram tempat penggila rafting mencurahkan adrenalin. Tak ada banyak tersedia pantai indah untuk penggila sunrise. Karena tempat saya berada disisi timur pulau raksasa ini maka disini tak ada sunset. Sungai dan pantainya pun lebih banyak sungai dan pantai berlumpur dengan pemandangan hutan bakau. Tanahnya bukan tanah subur yang dapat membuat batu dan tongkat menjadi tanaman. Apalagi kolam susu. Kalau kolam lumpur banyak (Mungkin kesamaan kondisi inilah yang mengilhami orang Malaysia menyebut Ibukotanya dengan nama Kuala Lumpur, walaupun Kota itu berbeda pulau). Bukan tempat yang bagus untuk melukis alam tentu saja.
Hingga tempat ini adalah destinasi wisata paling terakhir yang akan di referensikan oleh agen – agen pariwisata kepada wisatawan mancanegara itupun kalau ada yang mereferensikan. Dulu pernah ada seorang Bupati bernama Syaukani yang punya mimpi dan ide untuk mengubah stigma itu dan mencoba menjadikan tempat ini jadi tujuan wisata dengan proyek Pulau Kumala-nya. Tapi mimpi itu hanya menjadi mimpi. Karena potensi untuk itu memang tidak cukup disini. Dan orang yang berminat melanjutkan “kekeras kepalaan” beliaupun juga tak ada
Tuhan maha adil. Tak ada yang bisa membantahnya. Dipermukaannya tempat ini memang tak menarik, bahkan selama 3,5 abad menjajah nusantara Belanda tidak memandang sebelah matapun pada tempat ini (makanya sedikit sekali cerita – cerita kepahlawanan tertulis disini ). Karena memang tak tak ada syurga diatas tanah ini. Tapi meski diatasnya biasa – biasa saja namun ternyata Tuhan menyimpan semua potensi untuk membangun seribu syurga pada perutnya. Yah, perut tanah ini mengandung kekayaan dengan potensi yang harusnya cukup membuat para penghuninya membangun syurganya masing – masing. Kekayaan yang harusnya membuat para orang tua disini dapat membayangkan masa depan anak – anaknya dengan senyum cerah. Kekayaan yang harusnya bisa membuat para penghuninya tidak kelaparan sepanjang masa. Kekayaan yang harusnya membuat penghuninya tidak harus melakukan kejahatan dan kecurangan untuk memperoleh kesejahteraan.
Tuhan memberi anugerah tanah ini seperti tanah di Jazirah Arab. Bahkan disini lebih baik karena di Jazirah Arab permukaan tanah nya adalah lautan pasir yang menyiksa. Sedang disini lautan hutan teduh yang menjadi paru – paru dunia. Tapi keadaan yang lebih baik ini justru menjadikan tanah ini meperoleh “siksaan” yang lebih dahsyat. Tanah ini seperti seorang gadis polos dan sedikit dungu yang tak memiliki wajah cantik sehingga awalnya tidak membuat siapapun tertarik. Tapi ketika orang tahu bahwa si gadis ternyata memiliki warisan harta kekayaan dari orang tuanya yang berlimpah. Segeralah dia menjadi rebutan oleh banyak pemuda. Dan mereka semua secara sifat berasal dari jenis yang sama yaitu “ pemuda materialistis ”. Baju mereka KAPITALIS dan yang melekat di otak mereka hanyalah “naluri keserakahan”. Dengan uang yang melimpah sangat mudah bagi mereka merekrut para oportunis yang juga berotak serakah untuk menjadi dayang – dayang nya. Menyediakan karpet merah untuk mereka meng-eksplorasi dan meng-ekploitasi ( baca : menjarah ) tanah ini.
Karena harta itu terbenam di perut bumi. Maka di butuhkan cabikan untuk mengambilnya dan tusukan untuk menghisapnya. Segeralah wajah tanah ini berubah untuk selamanya. Tanah bewajah tak menarik ini menjadi semakin tak menarik. Karena goresan luka dan bopeng – bopeng menghiasi bukan saja wajah tapi sekujur tubuhnya. Harta yang harusnya bisa membangun syurga di tanah ini justru menjadi kutukan. Karena kenyataan nya syurga itu di bangun ditempat lain. Sangat jauh …. di pulau seberang! sedang disini kami hanya mendengar hingar bingar surga itu diantara deru bising mesin – mesin produksi, diantara pekat asap yang keluar dari corong – corongnya, diantara hilir mudik kendaraan – kendaran darat dan air yang datang kosong dan pergi sarat muatan. Seandainya harta itu memungkinkan diangkut lewat udara tentu cara itulah yang mereka pilih. Agar proses penghisapan ini bisa berlangsung lebih cepat. Agar mereka tak perlu lama – lama mendengar jeritan dan tangisan dihati kami. Dan mereka tak perlu lama – lama tinggal di tanah yang tak menarik ini. Seperti para pemuda yang materialistis tadi , tentu merupakan siksaan bagi mereka harus berlama – lama hidup serumah dengan isteri polos berwajah tak menarik dengan hiasan bopeng sampai ke sekujur tubuhnya.
Harta yang terkandung di perut tanah ini begitu lengkap . Benar – benar lengkap ada padat , cair dan gas. Yang berbentuk padat mereka menyebutnya batu bara, yang berbentuk cair mereka menyebutnya minyak bumi dan yang berbentuk gas mereka menyebutnya gas alam termasuk didalamnya komoditas baru CBM yaitu gas metana yang dihasilkan batubara.
Tak ada yang tahu berapa nilai kekayaan itu secara pasti. Dari berbagai referensi saya mendapatkan data termasuk diantaranya data dari Bappeda Kaltim yang saya kutip dari tulisan sesama Kompasianer, potensi minyak bumi mencapai 1,78 Milyar barel atau 13 % dari total cadangan nasional. Dan bisa dihisap sampai 15 tahun kedepan. Cadangan gas alam tercatat sekitar 51,3 trilyun kaki kubik atau setara 30% cadangan gas alam nasional. Produksi gas alam tercatat sekitar 1,134 milyar kaki kubik pada tahun 1998 dan pada tahun 2002 mencapai 1.648 milyar kaki kubik. Dengan masa hisap 20-30 tahun kedepan. Potensi batubara mencapai 22 milyar ton dan yang baru dieksploitasi baru sekitar 400 juta ton. Dengan masa kuras 40-50 tahun kedepan. Sebenarnya ada harta lainnya yaitu emas yang mencapai 60,50 juta ton. Tapi kebetulan itu bukan ditempat saya.
Saya coba berhitung berapa nilai kekayaan itu bila di uangkan. Minyak bumi yang berjumlah mencapai 1.780.000.000 barel dengan harga sekira US$ 80. Berapa yang di dapat ? ketika saya tanya bung excel yang muncul angka “1,424E+13” ternyata itu bernilai US$ 14.240.000.000.000. Kalau di rupiahkan dengan kurs 9000 per dolar nilai yang muncul 128.160 triyun rupiah. Fantastis ! Masih ingat Tsunami Jepang yang dianggap sebagi gempa dengan nilai kerugian materi terbesar sepanjang masa . Nilai kerugian nya dari data yang saya dapat lagi – lagi dari tulisan rekan Kompasianer mencapai 2.610 triliun rupiah. Nilai kekayaan minyak bumi Kaltim cukup untuk menutupi kerugian itu ratusan kali.
1311222339819870055
Lalu berapa nilai gas yang dimiliki Kaltim ? Dan jumlah uang yang bisa dihasilkan dari harga gas yang mencapai 51,3 triliun meter kaki kubik itu. Saya sempat bingung berat. Karena gas di jual dengan satuan mmbtu ( million matrix British thermal unit). Dari onlineconversion.com disebutkan 1 kaki kubik itu sama dengan 1020 btu. Biar ringkas saya jadikan 1000 saja. Bila 1 mmbtu itu 1.000.000 btu, maka 1 mmbtu itu sekira 1000 meter kaki kubik ( tolong dikoreksi bila salah ). Lalu berapa harga gas dunia ? data yang saya dapat adalah bulan januari 2011, yaitu sebesar US$ 6,6 mmbtu. 51.300.000.000.000 m3 = 51.300.000.000 mmbtu x US$ 6,6 = 3.047.220.000.000.000 atau 3.047,22 triliun. Lumayan , cukup untuk membiayai APBN negeri ini yang 1202 trilyun untuk beberapa tahun. Yang 70% persennya dari APBN itu dipakai untuk mengongkosi gaya hidup para aparat dan pejabat beserta keluarganya di ibukota (ini juga tolong dikoreksi bila salah).
131122238047461544
Lalu bagaimana dengan Batu bara dan berapa nilainya ? Harga batu bara dunia US$ 127,5 per ton(februari). Tinggal kalikan 22.000.000.000 ton x 127,5 = US$ 2.805.000.000.000. Kalau di rupiahkan dengan kurs 9000, maka angka yang didapat 25.245 triliun rupiah. Bukan angka yang kecil. Saya ingin membuat analogi untuk membantu anda membayangkannya. Agar tak hanya jadi sekedar angka. Bila uang sejumlah itu ada di depan kita dalam pecahan 100.000 rupiah. Dan disusun memanjang maka uang sebanyak itu bisa menjadi jembatan penghubung dengan panjang sekira 99 kali bolak – balik dari bumi ke bulan yang berjarak 384.403 KM. Bila disusun memanjang di bumi yang memiliki garis lingkar 20.400 mil atau 26.520 KM, maka bisa melingkari bumi sebanyak 1.443 kali. Kalau dibelikan sapi berharga 7 jutaan ? maka cukup untuk membeli sapi sebanyak 3.606.428.571 ekor . Dan bila dijejer memanjang di pantai dengan asumsi panjang badan sapi 130 CM. Maka sapi sebanyak itu bisa memagari seluruh wilayah pantai Indonesia yang panjangnya 81.000 KM sebanyak 58 kali. Dapat gambaran ?
Semua perhitungan diatas saya pakai Excel dengan pembulatan sempurna. Dengan menghilangkan angka dibelakang koma. Jadi mungkin saja tidak benar – benar akurat. Tapi saya pikir itu tak terlalu penting.
Sekarang mari kita hitung seluruh harta yang terkandung di perut bumi tanah ini. Dari minyak bumi kita dapat angka 128.160 triliun. Dari gas bumi kita dapat angka 3.047,220 triliun. Dan dari batu bara kita dapat angka 25.245 triliun. Dan saat di gabung maka angka yang di dapat 156.452,220 triliun. Dengan uang sebanyak itu saya rasa cukup untuk membangun puluhan kota seperti New York diatas tanah ini. Bila uang 1 milyar bisa membuat seseorang mengalirkan liur, maka uang sebanyak itu bisa membuatnya tenggelam oleh liurnya.Padahal ini baru tiga jenis kekayaan itu tanpa menghitung potensi lain seperti CBM, emas dan sumber daya yang lain. Dan juga belum semua tempat dijamah. Karena cakar cakar besi dan suntikan – suntikan baja itu tak akan benar – benar berhenti mengoyak – ngoyak sampai tak ada lagi yang tersisa di tanah ini. Dan bila uang sebanyak itu dibelikan mobil Ferrari, saya yakin jumlah itu cukup untuk membuat semua rumah di Kaltim ini akan terparkir mobil mewah itu.
Sekarang saatnya mari kita melihat kenyataan. Tidak ada mobil Ferrari. Juga tidak ada satu pun kota seperti New York ditempat ini. Bahkan Samarinda yang menjadi ibukota dari salah satu propinsi terkaya di negeri ini saja tidak mencerminkannya sama sekali. Ditengah kotanya pun anda bisa terperosok di lumpur dalam arti yang sebenarnya. Disana banyak sekali jalan – jalan dengan lubang menganga di tengahnya. Dan bila di ibukota nya saja infrastruktur seburuk itu, bagaimana pula di tempat saya si Muara Badak yang malang ? Hampir tak ada jalan berkualitas baik disini.
Sebenarnya yang saya tulis ini baru pengantarnya saja. Tapi sudah memakan tempat terlalu panjang untuk disebut artikel. Ungkapan sebenarnya atas kesedihan yang ingin saya salurkan belumlah tersampaikan. Bahkan korelasi tulisan ini dengan judulnya pun belum kelihatan. Juga gambaran realita wajah dari tanah ini sekarang. Juga pesimisme akan kelangsungan hidup penghuninya 30 – 40 tahun kedepan, yang pastinya akan datang tanpa terasa. Lalu sel kanker kronis bernama korupsi yang “sengaja dipelihara” hampir – hampir tidak menyisakan tempat sehat. Dan bencana alam yang sebelumya tidak pernah ada. Lalu yang paling penting tentu saja bagaimana pula perasaan kebanyakan dari kami yang hanya bisa jadi penonton sementara para penjarah itu berebut harta. Anda boleh membayangkannya seperti perasaan orang Indian ketika bangsa Anglo Saxon mencari emas ditanah mereka, bangsa Aborigin di Australia atau yang paling dekat orang Aceh dan Papua. Dan bagaimana para penjarah itu berhasil menjadikan anak – anak negeri ini menjadi kaki tangan yang sempurna buat mereka. Juga bagaimana mereka melakukan penjarahan hutan dengan kedok membuka lahan perkebunan. Dan cerita yang beredar disini tentang pembukaan lahan perkebunan sebagai kedok agar bisa merampas tanah dengan harga murah, padahal yang diincar adalah kandungan batu bara ditanah itu.Semua akan saya tulis pada bagian selanjutnya. Setelah itu anda baru boleh menilai apakah judul yang saya buat diatas terlalu mengada – ada.
Mungkin kami memang terlalu polos bahkan terkesan dungu.
Untuk kau anakku kelak
Maafkan ayah anakku.
Walau sebenarnya ayah belum menemukan wanita , yang kelak melahirkan dan menjadi ibumu.
Tapi ayah harus tetap minta maaf kepadamu.
Karena ayah melihat awan hitam akan menyambut kehadiranmu.
Dan ayah tak yakin bahwa nantinya tempat ini akan ramah bagimu.
Satu hal pasti.
Banyak bayangan momen indah yang ingin ayah bangun bersamamu pasti tak akan terjadi.
Seperti momen – momen indah yang sempat ayah rasakan ketika ayah masih kecil.
Diantaranya betapa seru berburu burung dengan ketapel.
Tapi kini.
Jangankan burungnya, bahkan suaranya pun tak ada lagi.
Padahal biasanya selalu terdengar dihari pagi.
Entahlah kemana burung-burung itu pergi.
Mungkin mereka semua sudah mati.
Ayah juga ingin mengajak mu memancing.
Ditempat biasa ayah memancing.
Tapi saat kau dilahirkan.
Ayah tak yakin disana masih ada ikan.
Bahkan ayah ragu, apakah sungai kecil itu masih ada.
Mungkin sudah berubah menjadi jalur membuang limbah.
Satu hal yang dulu paling ayah suka.
Adalah mengusir kera di kebun kita.
Berteriak – teriak sambil tertawa.
Tapi kelak ayah tak yakin bisa mengajakmu melakukannya.
Karena mungkin saat kau ada di dunia.
Sempat melihat kumpulan kera itu pun , kamu sudah tak bisa.
Ayah juga ingin kamu merasakan nikmatnya daging payau dan kijang.
Hewan yang dulu bisa didapatkan oleh kakekmu dengan jebakan.
Tapi ayah tak yakin bila hewan itu masih tersisa.
Andai jebakan itu tetap di pasang, paling yang terkena babi hutan.
Itupun kalo babi hutan juga belum hilang.
Malah ayah curiga yang terkena malah kaki – kaki orang serakah.
Yang mencari harta ditanah kita.
Karena disini, yang disebut hutan perawan hanya tinggal cerita.
Tapi untuk itu semua, doakan ayah.
Agar bisa membelikanmu Playstation sebagai gantinya.
Maafkan ayahmu anakku.
Karena kau akan terlahir dari orang biasa seperti ayah.
Dan itu akan membuat hidupmu semakin susah.
Saat sekarang saja.
Saat tanah ini masih kaya.
Ayah sudah termasuk orang yang tak berdaya.
Bagaimana pula saat kau nanti benar – benar ada.
Dan ditanah ini tidak ada apapun lagi yang tersisa.
Hanya tanah tandus dan jurang – jurang menganga.
Sumber air yang telah menjadi keruh semua.
Hawa panas yang entah menguap darimana.
Kau tentu akan lebih menderita.
Karena pastinya seperti ayah.
Kau juga akan menjadi orang yang biasa – biasa saja.
Tapi ada satu keajaiban yang ingin ayah ceritakan .
Tentang banjir besar yang tiba – tiba datang.
Membuat begitu banyak rumah tenggelam.
Dan ayah pastikan itu bukan dari Tuhan.
Karena disini itu adalah banjir pertama yang ayah saksikan.
Dan kisah tentang banjir disini tak pernah kakekmu ceritakan.
Hingga semua orang bingung keheranan.
Lalu menganggapnya benar – benar keanehan.
Sebagian menganggapnya tontonan.
1311222478321306498
Yang menjengkelkan, gara – gara banjir itu SIM ayah hilang.
Karenanya ayah harus “membayar” mahal polisi karena kena tilang.
Jangan tertawa anakku !
Yang ayah ceritakan ini betul – betul kenyataan.
Entahlah, mengapa bisa begitu kebetulan.
Tapi sayangnya keajaiban itu tak ada media yang menyiarkan.
Karena tempat kita memang jauh dari pusat keramaian.
Juga bukan tempat yang menarik untuk jadi sorotan
Dan mengapa pula ayah sebut itu keajaiban ?
Karena sampai sekarang, tidak ada satu orangpun yang bisa menjelaskan.
Dari mana air sebanyak itu datang ?
Akhirnya ayah berkesimpulan.
Bahwa banjir itu dikirim oleh setan.
Mungkin segitu dulu anakku …
Nanti ayah akan ceritakan kejadian – kejadian baru.
Tapi doakan ayah , agar cepat bertemu dengan ibumu.
Kutulis ini dimalam, tepat disaat usiaku bertambah.Merasa matang dan pria dewasa.

0 Response to "NKRI: Apakah Bentuk Lain dari Penjajahan? "

Posting Komentar